Wiranto, Jangan Main Api Bung!

images-4-3

 

Dalam pertemuan dedengkot GNPF dengan Menkopolhukam, Wiranto, saya mengamati gerak-gerik Rizieq and the gang. Munarman terlihat paling norak, sementara Rizieq tampak malu-malu kucing. Di situ Wiranto menyatakan bahwa mereka adalah teman lama. Ya, kalimat itu bagi sebagian orang mungkin mengejutkan, tapi saya tidak terkejut. Sedikitpun tak.

FPI bukan jatuh begitu saja dari langit. Mereka ada yang menciptakan. Siapa mereka itu? Nanti kita simpulkan belakangan. Kejatuhan FPI hari inipun bukan karena Tuhan marah-marah lalu menghardik aparat hukum biar bekerja. Tidak, itu kesimpulan konyol. Semua itu by design. Anonymous itu hantu. Jangan percaya hantu. Siapapun bisa jadi hantu.

Namun saya tak perduli jikapun FPI jatuh by design. Mereka sudah cukup meresahkan. Apalagi di tengah kekacauan politik kursi panas DKI Jakarta, mereka menjadi aktor utama. Tukang rusuh yang keras kepala. Apalagi mereka bawa-bawa agama untuk menakut-nakuti.

FPI hanyalah anjing penyalak. Selama ini mereka aman karena diamankan. Kalau kita berkaca pada bocoran Wikileaks, di belakang mereka justru ada aparat. Anjing-anjing itu diciptakan agar tidak terjadi gesekan langsung antara rakyat dan aparat. Licik? Atas nama keamanan dan ketertiban, kelicikan seperti itu bisa dipahami.

Sialnya, anjing-anjing itu semakin tak tahu diri. Mereka mendapat “tuan baru” yang ikut berebut kursi panas DKI Jakarta. Otomatis tuan lama sakit hati. Terlebih ketika anjing itu menggigit tiga orang jenderal. Sudah dikasih makan, dilindungi, malah tak tahu diri. Dasar anjing. Alhasil dihancur-leburkanlah mereka itu. Semua tentu by design. Jangan berhayal jauh-jauh tentang titik balik hukum dan keadilan.

Soal demo 212, sebenarnya ada banyak pihak bermain, termasuk FPI. Namun muaranya satu juga, jangka dekatnya kursi panas DKI Jakarta, jangka panjangnya menggoyang pemerintahan atau persiapan Pilpres 2019. Dalang sebenarnya ada di belakang asyik pasang status lebay di Twitter.

Jadi, sejak demo-demo besar itu, FPI sebenarnya sudah lepas kendali. Tentu ini merugikan. Aparat hampir kecolongan. Jumlah demonstran membludak. Jauh dari perkiraan awal. Saya tidak tahu kenapa BIN tidak bekerja. Itu titik puncak paling berbahaya. Namun entah dapat ilham dari mana, Jokowi mendatangi mereka. Konon itu benar-benar di luar prosedur. Ia datang untuk merendam kekecewaan sebagian pendukungnya yang ikut dalam barisan demonstran. Mereka yang sebelumnya menduga, Jokowi membela penista agama.

Di panggung 212 itu, jelas terlihat Wiranto menghalangi Rizieq yang hendak mendekati Jokowi. Bahasa tubuh mereka menjelaskan hubungan yang aneh. Waktu itu saya tidak berani menebak. Hubungan mereka selama ini lebih banyak di bawah tanah. Hanya sas-sus dan katanya-katanya. Dan saya anggap telah selesai.

Ketika baru saja mereka bertemu, saya teringat kembali bahasa tubuh yang ganjil itu. Sas-sus dan katanya-katanya itu. Hubungan yang renggang dan sempat saling gigit. Ternyata yang ada di bawah permukaan memang sulit diprediksi.

Saya, secara tidak langsung pernah memuji Wiranto. Itu memang bukan pujian, tapi pernyataan jujur saja. Bagaimanpun sejarahnya bersama Rendra dulu memang tak mungkin diingkari. Dosa-dosa masalalunya juga bukan kisah fiksi. Wiranto pernah ada dan berkuasa. Melayani satu presiden ke presiden berikutnya. Namun, saya harus memaklumi. Bagaimanapun ia prajurit. Semua perbuatannya demi mematuhi perintah atasannya, Presiden.

Sekarang Wiranto kembali bangkit dari keterpurukan. Ia menemukan momentum. FPI yang terkaing-kaing membutuhkan pertolongan. Kawan lama kembali datang memeluk. Kesepakatan lama boleh jadi diperbarui dan dikokohkan. Hal itu lazim dalam politik. Dan tak perlu bawa-bawa moral di sini.

Rizieq boleh jadi sudah putus asa. Kawannya di DPR tak banyak membantu. Fadli Zon hanya omong besar seperti biasanya. Sedikitpun tak mampu mengurangi himpitan yang membuatnya menjerit parau itu. Dan Wiranto mungkin satu-satunya harapan terakhir. Namun justru yang terbesar, seorang Menko. Di bawah kendalinya ada Menhan dan aparat hukum. Tito itu kecil sekali di hadapan Wiranto sekarang ini.

Dan di sinilah bahayanya.

FB_IMG_1486658531889

FPI, atau sebut saja Rizieq, telah berada di ujung tanduk. Ia benar-benar mengalami masa paling suram. Prilaku bejat yang tak terbayangkan banyak orang dibuat tontonan di media massa. Pembuktiannya tentu menunggu waktu. Namun kalau ingat kejadian Ariel-Luna, hampir bisa dipastikan itu benar-benar terjadi. Hanya soal waktu. Namanya benar-benar hancur. Itu belum kasus gawat yang lain.

Namun seribu satu kasus itu tak ada artinya bagi orang yang sangat berkuasa. Masih ingat iklan rokok tentang jin Jawa yang menghilangkan kardus berisi laporan korupsi? Semudah itu sulap dilakukan oleh orang yang sangat berkuasa. Kasus yang begitu banyak bisa hilang tanpa bekas. Ada banyak cara. Cara-cara Orde Baru tentunya. Wiranto tentu sangat paham soal ini.

Tulisan ini bukan ramalan, hanya ingin mengingatkan pembaca untuk memperhatikan kasus ini dengan saksama. Wiranto atau siapapun boleh sangat berkuasa. Mereka bisa menjinakkan anjing itu seperti sedia kala. Namun orang banyak yang waspada jauh lebih berkuasa. Jika Wiranto sebelumnya sudah jadi “bukan siapa-siapa”, orang banyak bisa mengembalikan posisinya seperti sedia kala jika ia berulah.

Kejatuhan Rizieq memang menghebohkan dan itu sehat untuk bangsa ini. Tak mengapa meskipun jika itu by design. Namun jika kasus-kasus yang membelitnya tiba-tiba lenyap, atau FPI masih juga meraja-lela tanpa kepala, patut dicurigai, kawan lama baru saja membantunya.

Di sinilah Wiranto diuji. Apakah ia terkenang nostalgia dan ingin kembali bermain anjing-anjingan, atau menyerahkan seluruh proses pada mekanisme hukum. Kita akan lihat bersama pembuktian pepatah, old soldiers never die, they just fade away. Saya pribadi barharap, prajurit tua itu tidak akan melindungi begundal tukang jual agama. Ia tidak bermain api. Lebih baik memperbaiki kesalahan masa lalu dengan cara ksatria. Agar tidak sia-sia saya pernah sedikit memujinya. Meski itu juga tidak sengaja.

Wiranto, jangan main api, Bung!

Kajitow Elkayeni

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014