Toko kelontong jual obat terlarang dibongkar, ribuan pil disita

Ilustrasi obat-obatan. ©2012 Merdeka.com

Ilustrasi obat-obatan. ©2012 Merdeka.com

 

Finda Irawan (26) warga Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam, dibekuk petugas Satuan Narkoba Polresta Bogor Kota karena kedapatan menjual obat-obat keras berkedok toko kelontong di Jalan Pancasan, Kelurahan Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor, Selasa (24/01).

Informasi dihimpun menyebutkan, terungkapnya kasus penyalahgunaan obat-obatan yang kerap dijual bebas dengan sasaran kalangan pengamen dan anak jalanan itu bermula dari razia penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) beberapa waktu lalu.

“Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi razia terhadap anak anak jalanan yang sering mengganggu Kamtibmas di dalam Angkot, sering mabuk dengan menyalahgunakan obat-obat keras secara berlebihan yang diperoleh di toko Jalan Pancasan, Bogor Barat, Kota Bogor,” kata Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi, Selasa (24/01/2017).

Dari hasil penyelidikan Tim Pemberantasan Narkoba unit 1 Sat Narkoba Polresta telah mencurigai salah satu toko kelontong, kemudian melakukan penyamaran sebagai pembeli. “Ternyata benar di toko tersebut menjual bebas obat-obat keras jenis pil Heximer dan pil Tramadol, saat itu juga kita lakukan penggerebekan dan mengamankan Finda Irawan. Bahkan dari hasil penyidikan sementara toko yang dikelola pelaku tidak mempunyai legalitas usaha apapun selaku Toko Obat dan menjual obat obatan jenis obat keras secara terselubung,” jelasnya.

Ia membenarkan saat ini tengah marak peredaran obat-obat keras berkedok toko kelontong. “Hasil pemeriksaan sementara pelaku mengaku menjual obat-obatan tersebut dijual ke pengamen dan anak jalanan seharga Rp 5 ribu untuk 6 butir pil heximer. Sedangkan Pil Tramadol 10 Butir dijual Rp 10 ribu,” paparnya.

Di lokasi penggerebekan pihaknya berhasil menyita obat-obatan yang seharusnya beresep dokter tanpa memiliki keahlian atau bersertifikasi sebagai tenaga kesehatan. “Barang bukti yang disita dari hasil penggeledahan di toko tersebut terdapat 100 lembar pil Tramadol dengan perlembar 10 butir jumlah 1.000 butir pil Tramadol, kemudian 250 butir pil Heximer. 45 bungkus plastik klip kecil a per klip isi 6 butir jumlah 270 butir. Jadi keseluruhan pil Heximer jumlah 520 butir,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dari keterangan pelaku obat tersebut diperoleh dari rekannya berinisial DD yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buron. Pelaku akan dijerat pasal 196 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan Jo Undang-undang Nomor 36 tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan.

 

Sumber: merdeka.com

INFOHARI.com © 2014