Menganalisa Perkataan Megawati : Kalau Jadi Islam Jangan Jadi Arab

megawati_baru

 

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya…” (Gusdur)

Meski telah lewat beberapa hari, namun pidato Megawati pada Hut PDI ke-44, terbilang menarik untuk dianalisa. Pidato tersebut menurut penulis sangat aktual dengan kondisi kekinian dan isinya cukup menohok. Kali ini pidato kebangsaan Mbak Mega (10/1) -sebutan akrabnya-membuat sebagian kuping merah akibat pernyataannya. Pernyataan mana yang dimaksud ?

Kalimat Mbak Mega yang dianggap kontroversial tersebut adalah, “kalau jadi Islam jangan jadi Arab.” Sesungguhnya, perkataan ini muncul dari sebuah keprihatinan. Keprihatinan melihat kondisi keberagamaan yang hanya menonjolkan sisi atau kulit luar semata, sembari melupakan esensi atau inti keberagamaan itu sendiri. Perkataan Mbak Mega ini cukup beralasan. Hari-hari ini banyak yang merasa telah ber-Islam dengan benar jika 100 % meniru apa-apa saja yang berlabelkan Arab. Mulai dari pemakaian bahasa yang campur aduk antara bahasa Arab dan Indonesia, pakaian seperti gamis, sorban serta penamaan jalan-jalan yang diganti dengan istilah Arab.

Apakah ini menjadi salah ? Sama sekali tidak, jika yang dimaksud adalah ingin menghayati atau mengalami “nuansa” Islam yang memang sejatinya berasal dari tanah Arab. Yang salah adalah jika umat kemudian menganggap versi Islam seperti itulah yang paling benar, paling lurus, paling murni, sementara ke-Islaman model yang lain adalah sebentuk penyimpangan, atau sesuatu penambahan (bid’ah). Padahal, Islam yang mengklaim sebagai agama universal telah diterjemahkan dalam budaya-budaya lokal setempat. Apakah dengan demikian, Islam yang telah diterjemahkan dalam budaya lokal dan setempat menjadi “kurang islami” ketimbang Islam versi-nya Arab?

Inilah bahayanya. Sebagai contoh, Al-Qur’an memerintahkan kaum perempuan menutup aurat. Perintah tersebut kemudian diterjemahkan sesuai dengan budaya dan adat lokal di mana Islam berkembang. Maka, hari ini kita melihat pemakaian penutup kepala dan aurat perempuan yang berbeda-beda dan unik di setiap tempat di dunia. Kita dapat menemukan istilah jilbab, hijab, burqa atau kerudung .

Begitu pula dengan penutup kepala lelaki. Ia bisa berbentuk peci hitam, peci putih, songkok, sorban tergantung di mana Islam berkembang. Dan sesungguhnya Islam adalah agama yang egaliter, ia agama yang lintas ras, suku atau golongan. Tidak melebihkan golongan Arab dari non Arab. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

“Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang Ajam (bangsa non Arab), dan tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, kecuali dengan taqwa.”.

Dalam rentang sejarah Islam yang sudah lebih dari 1400 tahun membuktikan bahwa isi hadits tersebut benar adanya. Empat orang dari enam orang Imam besar ahli hadits yang buku-buku kompilasi hadits mereka (Kutubus Sittah, Buku Enam, yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah) hingga kini masih dijadikan rujukan utama dalam mempelajari sumber-sumber Islam, ternyata bukanlah orang Arab.

Imam Bukhari berasal dari sebuah tempat bernama Bukhara, Uzbekistan. Imam Muslim berasal dari Tashkent, Uzbekistan. Imam Turmudzi berasal dari Termez, Uzbekistan. Imam An Nasa’i berasal dari Khorasan, Iran. Bahkan ulama ahli hadits kontemporer, Syaikh Nashiruddin Al Albani, berasal dari Albania.

Di sisi lain, kita pun diajarkan untuk menghargai, bahkan mencintai bangsa Arab, seperti sabda Nabi Muhammad Saw sendiri :

“Cintailah oleh kamu akan Arab karena tiga hal (dalam riwayat lain, Jagalah hak-hak ku melalui Arab karena tiga hal : pertama, karena aku orang Arab, kedua Alquran berbahasa Arab dan ketiga pembicaraan ahli surga dengan bahasa Arab”

Namun, kecintaan dan penghargaan ini bukan berarti kita membebek seratus persen terhadap apa-apa yang dibawa oleh Arab. Kita mesti memisahkan yang mana ajaran Islam, dan mana budaya Arab. Kita sebagai muslim harus mengikuti ajaran Islam, tapi tidak wajib untuk mengikuti budaya Arab.

Perkataan Mbak Mega pada HUT PDI beberapa waktu lalu itu harus dimaknai dalam konteks tersebut. Kata-kata Mbak Mega tidak berbeda jauh dengan perkataan Gus Dur yang saya kutipkan di awal tulisan ini. Mereka berdua bukan berarti anti Arab. Baik Mbak Mega atau Gusdur hanya mengatakan, budaya Arab itu ya budaya, sama seperti budaya-budaya lain di dunia. Tapi Budaya Arab tidak melulu identik dengan Islam.

Begitulah kura-kura………..

 

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014