Istri Ngoceh Path, Emak Ngomel Insta, Bapak Curcol Twitter

Screen-Shot-2017-02-07-at-7.53.18-AM

 

Pagi ini, coba kita bayangkan memiliki keluarga besar, terpandang dan memiliki harta melimpah. Tapi kemudian memiliki masalah di sosial media. Sebab istri kita ngomel-ngomel di Path, emak kita ngoceh di Instagram dan bapak kita curhat alay di twitter. Coba dibayangkan, kira-kira bagaimana perasaan kalian jika jadi anak dan suami orang-orang seperti mereka?

Sebelum membahas lebih lanjut, agar dipahami dengan baik, yang ingin saya ceritakan ini bukanlah tentang keluarga Agus Yudhoyono cagub nomer urut satu di Pilgub DKI, ini cerita orang lain.

Saya kenal seseorang bernama Yudho di seword.com ini. Dia adalah salah satu pembaca seword namun tidak pernah berkomentar. Sebenarnya Yudho ini anak penurut dan baik. Tapi saking penurutnya, jadi tidak bisa bersikap, tidak bisa mandiri. Jadi apa yang dikatakan Pepo Memo nya diikuti begitu saja tanpa pertimbangan yang jelas.

Suatu hari Yudho dicalonkan jadi kepala desa. Pencalonan ini tak lepas dari saran yang cukup dipaksakan oleh Peponya. Mengingat dulu Pepo pernah jadi Bupati. Yudho pun nurut. Harapannya supaya bisa seperti Peppo. Namun inilah awal cerita dari keluarga berantakan dan jadi sangat memalukan.

Suatu hari Yudho dikomentari oleh temannya di Path, bahwa Yudho tak pantas jadi kepala desa. Kebetulan sekali yang mengomentari tersebut ternyata terhubung dengan istri Yudho. Mendengar itu, marahlah si istri Yudho. Mencak-mencak karena ada orang yang mengomentari suaminya. Padahal yang mengomentari Yudho ini masih bisa dibilang teman baik istrinya. Tapi gara-gara Pilkades, hubungan istri dengan teman-temannya jadi terganggu.

Mereka yang merasa kasihan dengan Yudho, karena terlihat tidak siap dan hanya ikut apa kata Pepo Memo, akan jujur mengatakannya. Kasihan Yudho. Tapi mereka yang takut dimarahi sama istrinya, memilih diam dalam senyap. Sementara itu ada juga yang kaum penjilatnya yang menjadi timses Yudho. Mendekat ke istrinya, dengan harapan nanti ada job manggung dengan bayaran yang lumayan.

Mendekati hari pencoblosan, tidak hanya istrinya yang mendadak mirip ayam mau bertelur. Memo dan Peponya juga beraksi. Memo yang galaknya sudah menembus galaksi, tak segan-segan berhadapan dengan siapapun yang menilai anaknya masih ingusan dan kencingnya belum lurus.

Sementara Pepo, jadi terlihat seperti orang sakit jiwa. Apapun dia lakukan untuk menyelamatkan anaknya, memenangkannya dan membuatnya memiliki kans maju sebagai calo bupati. Jadi ketika anaknya takut datang ke sebuah talkshow, Pepo buat pernyataan lebay dan alay. Tujuannya supaya warga tak menghina anaknya, isu dialihkan ke dirinya, sehingga dirinyalah yang dihina oleh warga.

Pokoknya, setiap anaknya berpotensi dihina, atau calon yang berpasangan dengan anaknya berpotensi ditangkap KPK, langsung Pepo menulis curhat alay dan lebay. Melebihi kelebayannya saat masih jadi Bupati. Sehingga warga kemudian menghina Peponya Yudho, bukan mengomentari Yudho.

Sebagian orang tertawa lepas melihat Pepo mau pasang badan dan merendahkan harga dirinya untuk memperjuangkan sang anak jadi kepala desa. Tapi banyak yang tidak sadar, bahwa dengan cara-cara seperti itulah Pepo menjadi Bupati dua periode. Dengan cara-cara membuat isu hoax dan fitnah didzolimi.

Meskipun jaman sudah berganti, transportasi onta sudah jadi toyota, tapi Pepo tetap meyakini bahwa masih ada yang bisa dipengaruhi dengan cerita-cerit fitnah didzolimi. Masih ada yang bisa diharapkn suaranya dari hasil mengais jualan derita dan air mata.

Cerita ini memang belum berakhir, Yudho anak Pepo Memo masih akan bertanding di Pilkades minggu depan. Namun cerita soal keluarga besar dan terpandang, kini sudah berubah jadi keluarga kwek-kwek yang di mana-mana hatinya senang. Maksudnya asal dia senang, yang lain biarkan saja.

Pepo yang mencitrakan dirinya bijak serta karismatik, harus terlihat seperti anak ABG yang baru pertama kalinya haid. Dikit-dikit curhat, curhat dikit-dikit, lama-lama jadi bukit hambalang.

Memo yang sejak dulu sudah galak, sekarang tambah galak, sehingga tak ada yang berani lagi berkomentar tentang Yudho. Orang sudah takut dimakan sama Memo. Aeem.

Sementara istrinya, yang sejak awal kampanye terlihat manis, senyum-senyum unyu, ternyata jadi memuakkan melihat sikapnya yang mencak-mencak tak terkontrol.

Setelah membayangkan menjadi Yudho, pertanyaannya sekarang, jika kalian benar-benar menjadi Yudho, kira-kira langkah apa yang akan kalian lakukan untuk mengembalikan kewibawaan keluarga besar yang bijaksana? Silahkan jawab di kolom komentar.

Pertanyaan kedua, jika kalah di Pilkades, kemungkinan kekecewaan tidak hanya milik kamu. Pepo Memo dan istrimu pasti juga nangis-nangis bombai. Apa yang bisa kalian lakukan untuk menghibur semua mereka?

Terakhir, terlepas dari apapun jawaban pembaca seword, yang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini adalah, semoga Yudho tidak ikut ngoceh di Facebook. Sebab Path, Instagram dan Twitter sudah tidak asyik gara-gara keluarga Cikeong Yudho. Kalau facebook juga mereka kuasai, kita mau main apa?

Begitulah kura-kura.

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014