Ini bukan Acara Tabligh Akbar, Melainkan Menebar Kebencian

timthumb

 

Hari ini, sesuai dengan poster yang beredar GNPF MUI mengadakan “Tablig Akbar Aksi Bela Islam” di Masjid Jami al-Makmuriah Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Dijadualkan dai kondang nan syur dan hebat bernama KH Abdullah Gymnastiar yang biasa dipanggil AA Gym dan ustadzah cespleng bernama Irene Handoyo hadir dan memberi tausyiah.

Menarik untuk disimak, apa pernyataan warga di sana. Abdullah bin Saidah, seperti yang dilaporkan Tribunnews, AA Gym sebaiknya menunda ceramah hingga Pilkada Jakarta selesai. Warga ini mengatakan, “Saya menghormati kedatangan KH. Abdullah Gimnastiar yang akan memberikan tausyiah kepada warga Pulau Pramuka. Namun isu penistaan agama jelang pilgub sangat sensitif apalagi penyelenggara tabligh akbar ini adalah penyelenggara beberapa aksi massa anti salah seorang kandidat.” Abdullah yang juga koordinator salah satu kelompok nelayan di Kepulauan Seribu mengingatkan bahwa ceramah agama baik saja buat masyarakat tetapi ini momen Pilkada jangan sampai isinya menjelek jelekan salah satu pasangan calon.

Pernyataan warga itu mungkin pendapat pribadi. Mungkin tidak mewakili warga yang lain. Namun, mencermati apa yang selama ini berkembang di Kepulauan Seribu, bisa jadi banyak warga yang memiliki pernyataan serupa dengan Abdullah bin Saidah. Ketika FPI, GNPF MUI, dan beberapa kelompok Islam menyebar kebencian di Jakarta atas nama aksi membela Islam atas pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, warga di kepulauan ini baik-baik saja, sehat-sehat saja, seperti tak terpengaruh hiruk-pikuk di kota Jakarta. Tak ada satu pun warga di Kepulauan Seribu yang melaporkan Ahok dan atau menganggap Ahok telah menista al-Qur’an, Islam, atau ulama.

Entah karena kenyataan yang demikian itu, entah karena otaknya yang memang sengkleh, Novel Bamukmin menyebut warga kepulauan Seribu sebagai orang-orang awam. Menelusuri isi otaknya yang demikian ini, tentu kata “awam” merujuk pada fakta warga Kepulauan Seribu tak ikut-ikutan. Anda akan disebut awam bila anda tak ikut aksi bela Islam, dan justru anda diam saja padahal si penista beraksi di kepulauan anda. Begitulah makna awam seorang Bamukmin terhadap warga Kepulauan Seribu.

Nah, karena awam, warga Kepulauan Seribu ini mesti harus tidak diawamkan. Caranya? Ya gelar tablig akbar. Makanya, judul tablig akbar itu membawa-bawa Ahok dalam posternya dengan kalimat: “Tempat Kejadian Perkara (TKP) Kasus Dugaan Penistaan Agama Islam oleh Ahok”.

Lihatlah, kalimat itu masih menggunakan kata “dugaan”. Ini hendak menyamarkan seolah sang penyelenggara masih menghormati hukum dan proses peradilan yang tengah berlangsung atas diri Ahok. Tetapi kata “dugaan” yang masih tetap digunakan ini justru juga menunjukkan kelicikan FPI dan GNPF MUI atas ulah dan aksi-aksi mereka selama ini, termasuk menyelenggarakan tabligh akbar ini. Mengapa licik? Sebab ketika suatu perkara baru sebatas dugaan, tentu tidak wajar bila anda bangkitkan sentimen massa untuk menghujat, mencaci, dan memaki Ahok seakan-akan Ahok sudah benar-benar menista, padahal baru dugaan.

Licik. Itulah kuncinya. Kegiatan ceramah, tausyiah, atau tabligh akbar yang hari ini berlangsung di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu adalah suatu wujud dari kelicikan FPI dan GNPF MUI setelah kelicikan-kelicikan sebelumnya. Dengan menyelenggarakan acara seperti ini di “tempat awam”, di TKP, dengan fakta bahwa Ahok masih menjalankan proses pengadilan, FPI dan GNPF MUI tak hanya menghina dan merendahkan warga Kepulauan Seribu, tetapi sekaligus menghina dan merendahkan Islam itu sendiri.

 

AA Gym Harusnya Tobat

Jujur saja, saya semakin tidak mengerti dengan ustadz yang satu ini. Apakah dia tak pernah menyaksikan berita-berita di layar kaca tentang bagaimana kedunguan dan kebahlulan para saksi yang dihadirkan di sidang Ahok dari pihak pelapor? Jika AA Gym memiliki nurani dan mendengar suara nuraninya, tentu dia akan malu dengan kesaksian para saksi, utamanya Novel Bamukmin dan Gus Joy itu.

Perkara malu memang perkara yang semakin asing. Banyak pihak yang semakin tidak memiliki rasa malu, tak terkecuali para ustadz. Tetapi, jikalau sudah menyangkut kebenaran, apalagi kebenaran agama (Islam), perkara ini tidak lagi soal malu-maluan, melainkan soal benar dan salah, soal pahala dan dosa, soal surga dan neraka.

Maka, jika menyimak kesaksian orang macam Bamukmin dan Gus Joy, jika mempertimbangkannya dengan nalar sehat dan suara nurani, segala aksi yang dilakukan oleh FPI dan GNPF MUI merupakan perkara dosa yang berupa menerbar fitnah dan kebencian. Orang macam AA Gym yang selama ini berteriak akhlak-akhlak-akhlak, tentu tahu bahwa suatu perbuatan yang isinya penuh dengan fitnah dan kebencian bernilai salah dan buruk. Jika perbuatan sudah bernilai salah dan buruk, maka perbuatan itu keliru dan menjadi dosa. Apakah AA Gym tak menyadarinya?

Ketika Pilkada Jakarta semakin dekat, suasana semakin panas, bukankah seorang ustadz justru seharusnya tampil untuk mendinginkan suasana? Betul bahwa Pilkada panas itu Pilkada Jakarta, tetapi efek yang dimunculkannya selama ini telah mengangkut berjuta-juta muslim untuk bereaksi. Kenapa AA Gym terus berada pada rel yang justru memanaskan suasana?

Abdullah bin Saidah memang hanyalah seorang warga. Dia bukan ustadz. Dia tak seperti AA Gym. Tetapi bagaimana bisa seorang warga biasa yang “awam” dan tinggal di Tempat Kejadian Perkara justru bijaksana dibanding seorang ustadz dengan berjuta-juta ummat? Jawabannya, kita tanya pada rumput yang bergoyang….

 

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014