FPI Tidak Dukung Agus-Sylvi, Ahok yang Bikin Spanduk (Lho?)

FPI-tidak-dukung-Agus-Sylvi

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Kemarin, Gus Joy yang jelas-jelas mendukung Agus-Sylvi, bahkan sampai menggelar deklarasi dukungan, ternyata tidak diakui oleh timses Agus-Sylvi. Belum selesai urusan penolakan cintanya itu, manusia setengah advokat ini sudah mendapat kasus baru.

Saya menulis di sini lebih lengkap > Gus Joy Bukan Timses Agus, Katanya (Logika Yudhonian)

Baru istirahat sebentar setelah menjadi saksi atas tuduhan penistaan agama kepada Ahok itu, ternyata diam-diam dia juga menista agama sendiri dengan munculnya laporan ke Bareskrim tentang dugaan penipuan tanah wakaf 1.000 meter untuk pembangunan Masjid di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Prinsip tolak-menolak antar dua kutub yang sama, menciptakan prinsip Magnet Politik yang baru. Seperti pada magnet, bila jelas-jelas menolak, maka dapat dipastikan bahwa dua kutub yang saling menolak tersebut adalah kutub yang sama.

SUMBER MASALAH

Tidak lama setelah Anies berkunjung ke FPI, muncul spanduk dukungan FPI kepada pasangan Agus-Sylvi di beberapa tempat. Pertama, kita patut prihatin dengan Anies yang sudah jauh-jauh berkunjung, ingin menyatukan katanya (si Panji), eh malah muncul spanduk kalau mereka yang ingin disatukan itu ternyata mendukung pasangan lain. Kedua, membaca dari riwayat Gus Joy seperti yang tertulis di atas, FPI segera mengambil sikap ‘menolak’ sebelum terkena penolakan.

Mari kita bahas sedikit poin pertama. Merendahkan hati untuk bertemu ormas model FPI, bukan pekerjaan mudah. Entah apa yang dibicarakan Anies, tapi memberanikan diri berkomunikasi dengan mereka yang selama ini lebih sering memaksakan pikiran dari pada bertukar pikiran, patut diacungi jempol keberaniannya.

Setelah pekerjaan yang tidak mudah itu selesai, eh besoknya malah muncul dukungan FPI ke calon yang lain. Spanduk muncul di beberapa titik ibukota tentang pernyataan itu. Ini ibarat jatuh cinta, sudah disuruh main ke rumah, besoknya si gadis pasang status naksir cowok lain. Sakitnya tuh di sini. Berapa lapis? Ratusan! Lebih!

Spanduk-FPI-1

Nah cukup dulu, sekarang langsung ke poin kedua. Bukan FPI namanya kalau tidak belajar dari pengalaman. Melihat penolakan Gus Joy oleh timses Agus-Sylvi kemarin, FPI harus hati-hati. Dia harus lebih dahulu ‘menolak’ sebelum ditolak. Gengsi dong. FPI memberikan pernyataan resmi bahwa mereka, ”Enggak ada FPI mendukung siapa di Pilkada DKI, yang pasti mendukung untuk pemimpin muslim.”

FPI menolak mengakui kalau spanduk dukungannya ke Agus-Sylvi itu dari mereka. Justru Ahok disalahkan karena dibilang yang pasang spanduk FPI itu timses Ahok. Sebentar, sebentar, saya cerna lagi. FPI bilang yang pasang spanduk “Mari Jihad Bersama FPI Dukung Agus-Sylvi” itu pendukung Ahok? Jadi timses, simpatisan, teman Ahok, atau apapun namanya yang design, print, cetak spanduk di mana isinya ada gambar Rizieq dan tulisannya dukungan pada calon lain?

Di sini kadang saya merasa sedih…

Spanduk-FPI-2

Kalau memang ingin berdiri di dua rel, mbok ya kasih alasan yang sedikit pas gitu. Biar saya yang Otak Rusa ini bisa percaya juga, “Oh iya, betul juga ya,” gitu. Kalau memang mau dalam posisi kanan-kiri oke, supaya aman siapapun yang terpilih dapat bagian, ya minimal kasih penjelasan masuk akal.

Sekali lagi, bayangkan… Simpatisan Ahok, desain spanduk, kumpulkan bahan gambar Rizieq untuk di-edit mana yang paling pas dengan spanduk, edit keseluruhan sampai pas, pergi ke percetakan, bayar pakai uang sumbangan teman Ahok (atau uang pribadi, terserah), cetak, pasang di tempat tinggi yang perlu effort dan peralatan (minimal tangga, gunting, tali, dan sedikit sirkus)?

Saya bukan orang pintar, Mas. Hanya otak pas. Tapi ini kok pernyataan kayaknya dibuat tanpa bantuan otak ya.

“Kubu Ahok main kotor, Sebar spanduk foto Habib Rizieq & FPI ajak dukung Agus-Sylvi. Tujuannya, buat opini kasus Ahok karena rivalitas politik,” tulis akun twitter resmi FPI.

(Ketika tulisan saya sampai di sini, saya berusaha menarik nafas panjang, melihat ruang kamar dan pajangan, mengelus dada melihat cermin, hanya untuk memastikan saya masih waras dan belum telanjang.)

Maaf, saya ulangi sekali lagi, ini terakhir kali saya janji : “Ahok bikin spanduk bergambar Rizieq untuk mendukung Agus-Sylvi? Ini maksudnya Ahok yang Gubernur non-aktif itu kan ya? Yang kemarin dimaki Rizieq dan diancam demo sampai lebaran kuda sama pepo-nya Agus sahabat karib Sylvi? Kita ngomongin Ahok yang sama kan?”

Bukti-Dukungan-FPI

Bukti-Dukungan-FPI2

KESIMPULAN BERMASALAH

Tesis saya ini akhirnya sampai pada kesimpulan akhir. Melihat dan berkacamata dari kasus di atas, dapat dipastikan bahwa tolak-menolak pernyataan walaupun ada bukti adalah hal yang waras menurut perspektif politis golongan dan kelompok tertentu.

Prinsip, “Katakan tidak!” yang sudah membahana di era dinasti yang pernah berkuasa, ternyata menjadi prinsip bersama yang menyatukan kelompok-kelompok yang penting berkuasa atau dapat bagian dari penguasa.

Katanya ingin bermain sesuai aturan hukum, tapi kok sekaligus berusaha mengatur hukum sesuai aturan sendiri. Kalau ditanya mencintai negara, tapi begitu tidak ada yang tanya, keinginan menguasai lebih tinggi dari mencintai. Yang sudah jelas saja dipungkiri, apalagi nanti bila ada yang masih bayang-bayang rupanya.

Ada kemungkinan kesimpulan saya ini bermasalah, sesuai sub judul. Jangan terlalu serius. Mari kita minum kopi dan sama-sama memikirkan siapa kira-kira simpatisan Ahok pembuat spanduk itu? Apakah Anda, saya, dia, kuda, malaikat pencabut nyawa, manusia kepala rusa, kura-kura, keluarga prihatin-ria, rumput di pojokan sana, Inul Daratista, Sule Sutisna (lho?), atau siapa?

Sumber berita: seword.com

INFOHARI.com © 2014