Bangga! Megawati Dipercaya Bisa Satukan Korsel dan Korut

Screen-Shot-2017-06-02-at-11.31.48-PM-300x201@2x

 

Hari ini saya dibuat kaget karena membaca berita yang sangat luar biasa. Di balik hingar bingar berita absurd tentang klaim-klaim pengacara dan pendukung fanatik Rizieq, rupanya Presiden ke 5 Indonesia saat ini dipercaya oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, untuk menyampaikan salamnya kepada Presiden Korea Utara. Hal ini dilakukan dengan maksud agar Korea Selatan dan Korea Utara yang selama ini berseteru, dapat disatukan melalui jalur diplomasi oleh seorang Megawati.

Presiden Moon Jae-in juga meminta Megawati untuk mendampingi delegasi Korea Selatan bertemu Korea Utara untuk membahas reunifikasi, penyatuan dua korea.

Saya sangat terharu dan bangga sekali. Gila! Dari sekian banyak manusia di bumi ini, dari sekian banyak tokoh berpengaruh dan pimpinan negara, yang dipercaya mampu untuk menyatukan Korea Selatan dan Korea Utara rupanya adalah orang Indonesia, yang tak lain merupakan Presiden ke 5 kita. Luar biasa.

Ini artinya ketokohan dan kematangan Megawati dalam politik dan diplomasi benar-benar diakui oleh Presiden Korea Selatan. Sehingga dia berani mempertaruhkan 50 juta lebih penduduknya kepada seorang Megawati.

Tidak sembarang orang dapat diberi kepercayaan luar biasa seperti itu. Karena kalau salah langkah atau diserahkan pada orang yang tidak berkompeten serta tidak paham politik internasional, dua korea ini bisa perang dalam waktu dekat. Tapi sekali lagi, dari sekian banyak tokoh, Presiden Korea Selatan mempercayakan nasib dan masa depan negaranya kepada Megawati.

WhatsApp-Image-2017-06-02-at-23.37.10-300x225@2x

Mengapa Megawati Dipercaya?

Ini pertanyaan paling menarik dan sangat membuat saya kepikiran. Mengapa seorang Megawati bisa mendapat kepercayaan yang begitu luar biasa? Ini bukan sekedar menjadi pembicara dalam forum internasional, ini tentang nasib sebuah bangsa yang kini berada di tangan Megawati. Bisakah Korsel dan Korut bersatu? Atau malah akan semakin jauh berseteru?

Menurut Presiden Moon, dulu Megawati pernah berhasil mempertemukan Korea Selatan dan Korea Utara, Presdien Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun. Jadi sekarang Megawati dipercaya mampu menyatukan dua Korea ini.

Gara-gara ini, saya jadi teringat dengan cerita Pak Hasto, Sekjen PDIP. Saya sempat sekali main ke kantornya, kebetulan waktu itu ada Pak Iman yang sedang ulang tahun, jadi saya juga diajak untuk makan malam bersama.

Setelah makan nasi kebuli dan sate kambing muda, Pak Hasto bercerita tentang sepak terjang Megawati di dunia internasional. Saat Indonesia diembargo oleh Eropa dan Amerika, suku cadang peralatan militer yang dibeli Indonesia sempat tertahan di Korea Selatan. Namun dengan diplomasi dan insting kuat politiknya, akhirnya suku cadang peralatan militer itu berhasil didapatkan oleh Indonesia.

Pak Hasto juga bercerita ‘keusilan’ Megawati saat berkunjung ke Singapura. Dulu pernah ada masalah di Pulau Nipah, pulau terluar di perbatasan Singapura dan Indonesia. Pulau ini terancam tenggelam karena pengerukan pasir ilegal. Dengan cepat Megawati memerintahkan agar pulau Nipah segera ditimbun. Seluruh aparat dan pihak-pihak yang memiliki kompetensi dikerahkan untuk menyelamatkan pulau Nipah.

Dan tepat setelah pulau tersebut berhasil ditimbun, Megawati datang berkunjung ke Singapura. Setelah kunjungan selesai, Megawati mengatakan “Yang Mulia, mohon perkenannya, agar saya dapat dijemput oleh Kapal Perang Republik Indonesia, karena saya akan menengok pulau Nipah sebagai pulau terluar Indonesia.”

Perdana Menteri Singapura saat itu tak bisa menolak permintaan tersebut. Sehingga dengan gagahnya Kapal Perang kita merapat ke Indonesia dan Megawati naik ke kapal tersebut.

Cerita ini menjadi simbol kedaulatan wilayah Indonesia. Seolah mengatakan pada PM Singapura, “itu pulau Indonesia.” Mengapa pulau Nipah ini penting? Sebab kalau pulau ini tenggelam, maka wilayah Singapura bisa semakin luas. Minimal mudah diotak atik.

Dan cerita terakhir, tentang Megawati yang beberapa kali ditelpon oleh Presiden Amerika, Bush. Hal ini dilakukan mengingat Megawati saat itu merupakan Presiden dari negara dengan jumlah ummat muslim terbesar di dunia, dan Amerika berencana menyerang Irak.

“Mr Bush, Islam di Irak itu hampir sama dengan Indonesia. kami tidak akan memberikan dukungan selama aksi itu dilakukan secara sepihak, dan tidak atas nama PBB. Berapa lama Amerika akan menyelesaikan misinya atas irak?” Begitu jawaban Megawati.

Sangat keras dan telak. Dan itu kembali diucapkan oleh Megawati dalam Organisasi Konferensi Islam. Sehingga Raja Fahd dari Arab Saudi sempat mengingatkan Megawati atas ucapannya tersebut. Namun lagi-lagi Megawati mampu menjawab dengan sangat tegas “ini adalah prinsip. Jika saya tidak ikut menyuarakan, maka orang lain tidak akan berani bersuara.”

Jujur saja waktu itu saya tak terlalu yakin dengan cerita Pak Hasto. Cerita-cerita positif yang begitu luar biasa tersebut bisa saja lahir dari keberpihakan, mengingat Pak Hasto merupakan Sekjen PDIP. Tapi hari ini, saat Presiden Korea Selatan meminta Megawati untuk menjadi jembatan pemersatu Korea Selatan dan Korea Utara, saya jadi tak punya alasan untuk tak mempercayai cerita Pak Hasto tersebut. dan sepertinya, Presiden Moon Jae-in punya referensi yang kurang lebih sama tentang kepiawaian dan sepak terjang Megawati dalam politik internasional.

Kekaguman saya pada sosok Megawati bertambah karena dia yang selama ini diisukan tidak menghargai Jokowi sebagai Presiden, karena sempat menyebut bahwa Jokowi adalah petugas partai, rupanya begitu sangat menghargai Jokowi.

Usai pertemuan dengan Presiden Korsel Moon Jae-in, 29 Mei lalu, Megawati rupanya masih pulang ke Indonesia terlebih dahulu untuk bertemu Presiden Jokowi. Untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Presiden Korsel sekaligus membahas langkah ke depannya. Ini artinya Megawati sangat menghargai Presiden Jokowi, sehingga beliau harus pulang dulu ke tanah air sebelum melanjutkan misinya untuk menyatukan Korea. Padahal kalau mau, sebenarnya bisa via telpon saja. Tapi Megawati memilih bertemu langsung, sebagai simbol penghargaan kepada kepala negara.

Saya pikir ini akan jadi catatan sejarah yang luar biasa, sehingga sebagai orang yang hidup di jaman ini, saya akan sangat bangga mengingat kejadian ini. Terlebih kalau nantinya Korea benar-benar bersatu, Megawati dan Indonesia akan menjadi bagian dari sejarah luar biasa tersebut….Begitulah kura-kura.

Sumber: seword.com

Penulis: Aliffurahman

INFOHARI.com © 2014