(Analisis) Ulah Buruk JP Morgan dan Respon Keras Sri Mulyani

15800191_1312925522103646_5547100372275584383_o

 

Sedari pagi, banyak teman yang bertanya mengapa tiba-tiba Sri Mulyani memutus seluruh hubungan kemitraan antara Kementerian Keuangan dengan JP Morgan Chase Bank. Pada banyak media mainstream sebenarnya sudah dijelaskan oleh Sri Mulyani, bahwa JP Morgan menurunkan peringkat surat utang atau obligasi Indonesia dari overweight menjadi underweight, turun dua peringkat sekaligus. Padahal urutannya adalah overweight, netral, baru underweight. Negara yang sedang mengalami gejolak, Turki, turun satu peringkat dari netral ke underweight. Negara yang sedang mengalami resesi, Brazil, juga turun satu peringkat dari overweight ke netral. Sementara Indonesia langsung turun dua peringkat, dari overweight ke underweight. Inilah yang membuat Sri Mulyani mengecap JP Morgan tidak kredibel dan tidak pantas menjadi mitra Indonesia.

Sebagai catatan, overweight artinya adalah selama 6 hingga 12 bulan ke depan, pasar keuangan akan bergerak di atas rata-rata ekspektasi dari para analisis. Netral artinya pergerakan sesuai ekspektasi. Sementara underweight artinya di bawah espektasi atau diperkirakan lebih buruk.

Bayangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 sebesar 5.18%, dengan angka pengangguran 5.5%. Sementara Brazil yang selama dua tahun ini ambruk karena resesi, mencatatkan angka pengangguran sebesar 11.8% dan pertumbuhan ekonomi negatif minus 3.8%. Dengan perbandingan sederhana saja, sangat jelas Brazil jauh lebih buruk dari Indonesia. Namun JP Morgan malah menilai Indonesia lebih buruk dari Brazil. Lama-lama saya jadi curiga JP Morgan ini sudah disusupi kaum Salawi. Hahaha

Jadi sangat beralasan kalau Sri Mulyani, Menkeu yang pernah malang melintang di Bank Dunia dan sangat pakar soal keuangan dan ekonomi jadi berang dengan JP Morgan.

“Kalau yang namanya kerja sama, harusnya saling menguntungkan. Pemerintah Indonesia melakukan kerjasama karena menganggap bahwa ini menguntungkan untuk kita dan juga oleh partnernya di sana. Saya berharap akan memberikan suatu signal negara ini diurus dengan baik, benar dan sungguh-sungguh. Tidak berarti bahwa seluruhnya profesional. Tidak berarti bahwa seluruhnya sudah sempurna. Memperbaikinya itu secara profesional dan akuntabel, terbuka dan terus menciptakan hubungan yang saling menghormati,” kata Sri Mulyani.

Sementara Wapres JK berkomentar tak kalah ketus “ya itu biasa saja, semua hubungan itu biasa. Mau ini, mau itu, kan terserah kita. Bukan terserah dia (JP Morgan) kan.”

Keputusan keras Sri Mulyani

Respon Sri Mulyani terhadap JP Morgan bisa dibilang sangat berani. Keras sekali. Ini jadi mirip seperti Menteri Susi yang tanpa ampun menenggelamkan kapal-kapal asing ilegal. Tak perlu banyak diplomasi, langsung tenggelamkan.

Gara-gara riset serampangan JP Morgan, Sri Mulyani mencabut mereka sebagai agen penjual Surat Utang Negara (SUN) dan peserta lelang Surat Utang Syariah Negara (SBSN). JP Morgan juga tidak punya posisi khusus dalam penerbitan Global Bond. Lalu terakhir, juga tidak termasuk dalam daftar bank persepsi untuk penerimaan pajak atas program tax amnesty yang 6 hari lalu telah mencapai deklarasi sebesar 4.155 triliun, dengan realisasi uang tebusan sebesar 105 triliun.

Jujur, ini berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri. Rasanya, setelah Soekarno, baru kali ini Indonesia begitu tegas menindak negara asing. Tenggelamkan! Cabut kontraknya! yang menjadi lawannya pun bukan negara kecil seperti Malaysia, melainkan China dan Amerika. Hoho. Padahal sebelumnya, pemimpin Indonesia melempem di hapadan Malaysia dan selalu mengedepankan jalan tengah. Tak pernah seberani ini.

Ada apa dengan JP Morgan?

Namun mungkin banyak pembaca yang bertanya mengapa JP Morgan yang selama ini merupakan lembaga pengelola investasi global tersbesar di Amerika dengan aset 53,5 milliar dollar, kemudian membuat data yang lucu dan tidak sesuai dengan fatka lapangan? Terlalu mudah untuk membandingkan kondisi Brazil dan Indonesia, tak perlu pakar ekonomi, mahasiswa semester akhir pun pasti banyak yang paham. Sebab perbandingannya terlalu jauh. Sejauh Leichester dan Chelsea di klasemen Liga Inggris 2016. Kemudian, kenapa juga Sri Mulyani begitu percaya diri untuk memutus hubugan dengan JP Morgan? Berani sekali? Seolah benar-benar tak perlu JP Morgan.

Dari sekian banyak pertanyaan, saya melihat jawabannya sudah ada pada kejadian-kejadian sebelumnya. Sehingga berdasarkan analisis tim ekonomi Pakar Mantan, beberapa kejadian ini mungkin bisa menjadi jawaban dari semua pertanyaan tersebut.

Masih ingat dengan pernyataan Presiden Jokowi pada KAA ke 60 pada 2015 lalu? Kalau belum ingat, berikut ini saya kutipkan.

 

“Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF dan ADB adalah pandangan usang yang perlu dibuang. Kita mendesak dilakukannya reformasi arsitektur keuangan global untuk menghilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain,” kata Jokowi.

 

Selain itu, Presiden juga menyebut bahwa hanya 20 negara yang menikmati kekayaan. Sementar 1.2 miliar jiwa tak berdaya dalam kemiskinan. Negara-negara kaya seolah memiliki posisi lebih superior dalam menentukan perekonomian global.

Fokus pernyataan Jokowi bukan pada Bank Dunia, IMF atau ADB, melainkan pada dominasi. Menghilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain dan mengharapkan keadilan. ituh! Inilah kenapa setiap Presiden ke luar negeri, selalu yang dibahas adalah investasi. Mereka diajak berinvestasi di Indonesia secara terbuka, adil dan proporsional.

Bahkan Jokowi terlihat begitu percaya diri dengan membatalkan kerjasama kereta cepat dengan Jepang, meski mereka sudah melakukan uji kelayakan. Sempat ada isu Jepang akan hengkan dari Indonesia, namun nyatanya sampai sekarang mereka bertahan. Belakangan Indonesia malah memilih China sebagai investor, karena China bisa menawarkan nilai proyek lebih murah, 5,5 miliar dollar. Sementara Jepang lebih mahal, 6.2 miliar dollar. Selain itu, China juga tidak meminta jaminan pemerintah atau pembiayaan dari APBN. Sedangkan Jepang meminta jaminan pemerintah dan resiko ditanggung Indonesia. Selain itu juga tawaran China lebih adil dan menarik, sebab penggunaan konten lokal mencapai 58% serta menawarkan transfer tekhnologi secara terbuka.

Tentu saja perlu nyali besar untuk membuat kebijakan sekrusial itu, mengingat Jepang merupakan investor terbesar ke dua di Indonesia setelah Singapura. Sementara China hanya menempati urutan ke empat, itupun baru melonjak tahun 2015 lalu. Kalau sampai Jepang benar hengkang dan mencabut semua investasinya di Indonesia, bisa sekarat negeri ini. Tapi ya itulah Jokowi, nekat!

Gaya kepemimpinan Jokowi yang bebas aktif menerima investor dan mencari ‘harga terbaik’ ini tentu berbeda dengan SBY dan kabinetnya. Pada 2011 lalu, JP Morgan sempat secara khusus menemui SBY sebagai Presiden, ditemani besannya Hatta Rajasa yang merupakan Menko Ekonomi, Mensesneg Sudi Silalahi, BKPM Gita Wirjawan dan Seskab Dipo Alam.

Pasca pertemuan tersebut, JP Morgan menyanggupi investasi untuk semua sektor pertambangan, pelabuhan dan infrastruktur di Indonesia. Setelah itu JP Morgan mengajak investor untuk masuk ke Indonesia. dari yang sebelumnya hanya tiga investor dalam setahun, meningkat jadi lima investor. Pemerintah pun jadi kelabakan dan dituntut untuk menampungnya.

“Jadi kita harus banyak men-create project pembangunan kita terutama untuk infrastruktur,” kata Hatta Rajasa. Ajaib. Investornya masuk dulu, proyeknya dibuat kemudian. Pemerintah SBY senang-senang saja, masa ya investor masuk malah marah?

Berbeda dengan Jokowi, dia maju sendiri sebagai pimpinan, menawarkan investasi secara terbuka, sehingga investor bersaing memberikan penawaran terbaik. Mana yang lebih menguntungkan, itulah yang dipilih. Tak ada lagi cerita JP Morgan datang ke Indonesia membawa investor, sebab setiap Jokowi ke luar negeri, selalu ada investor yang datang menemuinya langsung.

Gaya kepemimpinan seperti inilah yang menurut saya menjadi ‘masalah’ bagi JP Morgan. Sehingga tingkah JP Morgan selama ini jadi aneh-aneh. Berulah. 2015 lalu, JP Morgan menyarankan investor untuk melepas rupiah dan obligasi di Indonesia. Dampaknya lumayan, rupiah nyaris menyentuh 15,000 perdollar. Namun beruntung pemerintah tetap tenang, sehingga itu tak berlangsung lama, investor kembali percaya dengan Indonesia dan rupiah kembali bergerak positif.

Lalu sekarang, mereka kembali berulah dengan cara lebih aneh, mendowngrade Indonesia jadi lebih buruk dibanding Brazil yang sedang resesi. Beruntunglah Sri Mulyani sudah masuk ke Indonesia, jadi ulah-ulah JP Morgan ini jadi langsung cepat direspon. Atau mungkin juga JP Morgan lupa kalau Sri Mulyani sudah kembali ke Indonesia. haha Selanjutnya menarik untuk melihat dampaknya ke depan.

Begitulah kura-kura.

 

Sumber berita: seword.com

Penulis: Alifurrahman

INFOHARI.com © 2014