(Analisis) Latar Belakang “Kebencian” Riziq Shihab terhadap Pak Jokowi

Riziq-Shihab-terhadap-Presiden-Jokowi

 

Ternyata selama dua tahun lebih perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi, isu-isu hoax yang pernah dihembuskan oleh mulut-mulut lawannya pada pilpres kemarin, masih terus dihembuskan hingga sekarang. Isu-isu perihal  Tenaga Kerja Tiongkok, PKI, penzaliman terhadap umat Islam dan sebagainya masih disebar-sebar di sosial media. Bahkan semakin hari intensitas provokasinya makin meningkat.

Adalah Front Pembela Islam (FPI)di bawah komando Riziq Shihab. LSM ini adalah salah satu kelompok yang secara konsisten terus memanas-manasi suasana dengan lemparan isu berbau hoax di atas. Pertanyaannya, ada apa sebenarnya, sehingga sosok Riziq Shihab ini seolah-olah tidak menunjukkan keberpihakannya pada Pemerintahan Jokowi ?

Pertanyaan tersebut wajar saja muncul setelah melihat, membaca dan mendengar perkembangan FPI dan pelbagai sepak terjang Riziq Shihab terhadap pemerintahan Presiden Jokowi.

Untuk menjawabnya, saya akan memulai dari sebuah dugaan, bahwa keinginan FPI saat ini tak lain dan tak bukan adalah mewujudkan NKRI Bersyariah, cepat atau lambat. Hal tersebut terlihat dari semakin masivnya FPI dan kawan-kawannya menyebar poster-poster dan gamber meme NKRI Bersyariah di sosial media. Poster tersebut bersliweran hampir setiap hari pada timeline Facebook saya, Biasanya poster atau meme tersebut berisi pesan-pesan provokatif dan menggugah seperti, umat Islam dizalimi, saatnya umat Islam bersatu, Umat Islam Siaga Perang, Anti PKI dan sebagainya.

Penyebaran poster bertema NKRI Bersyariah tersebut ternyata bukan satu-satunya cara untuk mewujudkan tujuan mereka. Dalam pandangan saya, ada dua kemungkinan yang akan dan sedang dilakukan oleh FPI.

Kemungkinan Pertama, FPI akan berusaha naik tingkat menjadi Partai. Dengan menjadi Partai, FPI lebih leluasa berjuang di parlemen untuk mewujudkan cita-citanya menjadikan Pancasila dalam Piagam Jakarta sebagai Dasar Negara. Sebagai pengingat, bunyi dari Sila Pertama Pancasila dalam Piagam Jakarta adalah, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. “

Sila pertama dalam rumusan Pancasila versi piagam Jakarta itulah yang konon menjadi landasan dari gerakan NKRI Bersyariah. Atau bisa juga FPI masih tetap memegang Pancasila-yang sekarang menjadi dasar negara- , namun (setelah resmi jadi Partai) mereka berusaha untuk mengusulkan UU atau aturan hukum lainnya yang memperkuat pendapat mereka tentang “tafsir” Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana menurut FPI, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid.

Selain gencar melakukan kampanye NKRI Bersyariah, FPI juga sedang berusaha untuk berubah menjadi Partai. Karena gerakan tersebut tidak akan ada artinya jika nantinya tidak diperkuat dengan landasan hukum yang mengatur tentang NKRI Bersyariah. Jika status FPI masih sebatas LSM, kecil kemungkinan bagi mereka untuk bisa mengubah atau terlibat dalam pembuatan UU yang mengatur NKRI Bersyariah. Untuk itulah FPI perlu mengubah dirinya menjadi partai agar bisa memperjuangkan disahkannya Pancasila versi piagam Jakarta atau mengusulkan UU dan aturan hukum lainnya yang mengatur tentang NKRI Bersyariah.

Kemungkinan Kedua, untuk mewujudkan NKRI Bersyariah, FPI saat ini sedang bekerja sama dengan Partai tertentu. Partai tersebut mengemban tugas di parlemen memperjuangkan landasan hukum NKRI Bersyariah dan segala perlengkapannya. Juga bergerak di lapangan bersama-sama dengan FPI menyebarkan gagasan NKRI bersyariah melalui jaringan partainya yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Dibanding kemungkinan yang pertama, kolaborasi dengan parpol itulah yang kemungkinan besar lebih dipilih oleh FPI. Sebab, untuk menjadi parpol resmi yang diakui Kemenkumham bukan hal yang mudah, Syaratnya di antaranya harus memiliki kepengurusan partai di 34 Provinsi serta sekurang-kurangnya 75 persen kabupaten/ kota dan 50 persen kecamatan di provinsi tersebut. Ini tentu ribet, membutuhkan waktu dan modal yang cukup besar. Lebih baik mereka menggandeng atau digandeng Partai yang sudah on the road dan memiliki cabang di 34 provinsi.

 

PDIP Penghalang Cita-cita FPI

Apa yang sedang dilakukan FPI di atas  merupakan cara untuk mewujudkan ambisi besar mereka. Siapun penghalang akan coba disingkirkan. JIka kita kaitkan dengan pertanyaan pada judul artikel ini, mengapa Riziq Shihab begitu “benci” dengan pemerintahan Pak Jokowi? Beberapa paragraf di bawah ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas.

Kebencian tersebut bukan tanpa alasan, Kebencian FPI terhadap Jokowi  secara otomatis juga mengarah langsung pada partai pengusungnya, PDI Perjuangan. Sebagaimana yang kita ketahui, PDIP merupakan partai nasionalis terbesar saat ini. PDIP boleh jadi merupakan anak cucu ideologis Sukarno. Sukarno sejak awal berdirinya negara ini memegang komitmen terhadap nasionalisme Indonesia. Sebuah nasionalisme berdasarkan Pancasila yang tidak dapat diganggu gugat. Tidak boleh berdasarkan ideologi lain baik itu komunis ataupun agama sekalipun. Bung Karno mengetahui situasi masyarakat Indonesia yang berbeda-beda agama dan suku. Persatuan bagi Bung Karno adalah segala-galanya tanpa memandang suku agama ras dan antar golongan. Hal tersebut sudah jauh hari dinyatakan dan dilakukan oleh Bung Karno sejak sebelum Indonesia merdeka.

Tua dan muda, yang laki dan yang puteri kaum Muslim, Christian dan Budha, yang beragama atau tidak, insyaflah bahwa hanya persatuan yang kokoh dari bangsa kita semua dapat mendatangkan Indonesia Merdeka” – Persatoean Indonesia, 20 Mei 1930, No 50, h 131-132. 

Pemersatu semua itu ternyata adalah Pancasila yang sekarang resmi menjadi dasar negara. Pancasila yang mengakui keragaman dan perbedaan yang ada di Republik Indonesia.

Tak heran FPI begitu frontal terhadap PDI Perjuangan yang sekarang berkuasa karena PDIP jelas akan menjadi penghalang utama gagasan NKRI Bersyariah. Di mana disinyalir jika nanti NKRI Bersyariah benar-benar terlaksana akan terjadi diskriminasi  rakyat Indonesia berdasarkan agama. Ini tentu berlawanan dengan cita-cita Bung Karno dan pendiri bangsa.

Atas dasar itulah, FPI menganggap PDI Perjuangan adalah lawan terberat nya karena menghalang-halangi dan bahkan berpotensi menenggelamkan LSM FPI. Sambutan dari  Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri pada ulang tahun PDI Perjuangan ke 44, ini mungkin semakin membuat FPI ketar-ketir “….Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.”

Berhadapan dengan partai politik terbesar tentu bukan hal yang mudah, untuk itulah FPI merencanakan berbagai cara yang saya sebutkan di atas. Berhasil atau tidak, FPI mewujudkan ambisinya, kita tunggu bersama.

 

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014