Aksi 112, Sembunyi Burung Unta dan Penistaan Ulama

Burung-Unta

Huh…kecewa! yang paling saya tunggu muncul di aksi 112 di Masjid Istqlal adalah mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. sampai acara bubar, mantan tidak juga menampakkan pipinya

Surprised. Dua pasangan calon gubernur justeru terlihat duduk manis  di antara jemaah daster putih. Pucuk dicinta ulampun tiba. Agus Harimirti Yudhoyono, Anies Rasyid Baswedan dan sandiaga Salahuddin Uno tidak bisa bersembunyi dari sorot kamera wartawan. Silvyana Murni juga terlihat duduk di barisan jemaah perempuan. Sempurna. Sembunyi burung onta.

Konon, entah pemalu atau penakut, burung untah suka bersembunyi. Cara bersembunyinya lucu, Burung unta membenamkan kepalanya yang kecil ke dalam pasir, atau di lubang atau dibalik batu, tidak penting ukuran batu itu kecil atau besar, yang penting kepalanya tersebunyi dan matanya gelap sehingga tidak bisa melihat. Dengan tidak bisa melihat, burung unta yang volume otaknya identik dengan ukuran kepalanya yang sangat minimalis sudah merasa aman dan merasa tidak terlihat oleh siapapun.

Kalaupun ditunjukkan bukti foto, burung unta pasti menolak mengakui bahwa itu fotonya.semua burung unta memiliki pantat, ekor dan ciri fisik yang cenderung sama. Dalih hukum yang masuk akal.

Kadang-kadang, mencari jawaban dengan cara bertanya adalah cara tidak tepat. Meskipun ekornya sudah sangat jelas terlihat, namun berbagai dalih dilontarkan untuk berkelit, mengelak dan menjauh dari maksud sebenarnya pertanyaan itu, alias ngeles. Tapi ternyata jawaban juga bisa datang sendiri tanpa perlu dicari.

112 di Masjid Istiqlal Jakarta lengkap dengan bukti foto. Agus – Silvy & Anies – Sandi, keduanya tidak bisa berdalih, berkelit dan mengelak lagi. kedua pasangan calon gubernur DKI Jakarta ini bergabung dengan massa kegiatan apapun namanya itu. Kepala dan Badannya terlihat jelas, hanya ekor yang tak tampak dalam foto.

FPI dan sejenisnya juga tidak bisa lagi terus berbohong bahwa aksi 411, aksi 212 dan terakhir aksi 112 tidak terkait dengan politik. Teriakan salah seorang tukang teriak berdaster untuk memilih pasangan nomor 1 dan pasangan nomor 3 di dalam Masjid Istiqlal pada kegiatan 112 sudah lebih dari cukup sebagai bukti kegiatan politik yang mereka balut kegiatan keagamaan. Meskipun dibalut daster dan sorban, dusta tetaplah dusta, dan dusta yang terus menerus adalah dosa yang dikembang-biakkan.

Tidak hanya melakukan kebohongan dengan mengingkari tema kegiatan yang katanya tidak terkait politik dan hanya kegiatan shalat subuh berjamaah, tausiyah, dzikir dan doa bersama. Aksi 112 juga melakukan penistaan yang nyata dan vurgar terhadap ulama.

Himbauan dari ulama yang juga tokoh ormas islam terbesar seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Rois AM Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU) KH. Ma’ruf Amin. Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) untuk tidak mengikuti aksi 112 di Jakarta tidak diindahkan.

Tidak mengindahkan himbauan dan seruan ulama, apakah sikap semacam ini bukan bentuk penistaan terhadap ulama? Terlebih lagi, aksi yang tetap mengatasnamakan membela fatwa MUI terkait Surat Al-Maidah kemudian dilarang menggelar aksi oleh pembuat fatwa yang diatasnamakan untuk dibela, ini namanya apa? Pembangkangan terhadap ulama. Dua unsur terpenuhi, meminstakan dan membangkan ulama. Cukup?

Ternyata, bagi kelompok daster dan secingkarangannya, kepentingan “lain” bisa mengalahkan kepatuhan terhadap ulama dan MUI yang telah mengakui menyerahkan fatwa untuk dikawal Riziek Syihab dan FPI. Luar biasa.

“Tidak ada makan siang gratis”, ungkapan ini cukup relevan untuk menggambarkan kemungkinan simbiosis mutualisme hubungan politik para calon gubernur dengan FPI dan secingkrangan dengannya. Tinggal lagi bagaimana warga Jakarta menentukan sikap dalam menggunakan hak pilihnya pada hari pencoblosan rabu tanggal 15 Februari 2017.

Bagi warga Jakarta yang suka dan menginginkan FPI dan secingkrangannya mendapatkan peluang  perkenan dan pembiaran merajalela mengganggu arus lalulintas, melakukan sweeping, seenaknya teriak “Kafir dan Bunuh” kepada siapa saja yang tidak disukainya, sekarang sudah jelas harus bagaimana.

Kalau warga Jakarta menginginkan sikap dan tindakan arogan dan intoleransi yang diduga sering dilakukan FPI dan sejenisnya mendapat legitimasi dari pemerintahan Jakarta bahkan berpeluang turut serta sebagai penentu kebijakan di Jakarta, warga Jakarta sudah tahu apa yang bisa dilakukan.

Kesimpulan

Pada hari terakhir masa kampanye telah terbuka secara terang-benderang bahwa segala ribut-ribut akhir-akhir ini yang dilakukan kelompok yang mengatasnamakan agama bahkan secara pongah menyebut membela Allah, sesungguhnya adalah kegiatan politik yang menjual agama. Nauzubillah..summa nauzubillah

Kepentingan politik siapa di balik aksi-aksi yang dibalut agama itu, pun sudah tersaji dengan jelas. Pasangan calon gubernur yang telah tergiur dengan massa besar berdaster dan cingkrang untuk mencari dukungan dami mendulang suara, justeru telah menjauhkan diri dari warga Jakarta yang sering terusik keamanan dan kenyamanannya akibat aksi-aksi FPI dan sejenisnya.

Jadi, Jangan senang dulu.

Sumber: seword.com

INFOHARI.com © 2014