8 Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya, tapi sains tahu!

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu. ©2017 Merdeka.com

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu. ©2017 Merdeka.com

 

Hidup ini penuh misteri. Jangankan misteri datangnya kiamat, atau bagaimana Bumi terbentuk, berbagai pertanyaan sederhana tentang apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari saja, seringkali kita tak bisa jawab. Namun ilmu pengetahuan ada untuk itu, dan tentu sains bisa menjawabnya.

Berbagai pertanyaan sederhana seperti mengapa kita sering tersesat, atau mengapa seseorang bisa lebih rupawan ketika di foto ketimbang ketemu aslinya, ternyata membuat kita kebingungan.

Berikut adalah beberapa misteri sederhana yang jawabannya dengan mudah dapat dipecahkan oleh sains.

 

1. Mengapa seseorang sering kesasar

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

‘Kesasar’ ternyata cukup sulit untuk dihindari, meski kita sudah mengikuti arahan dari teman yang rumahnya akan kita tuju, tetap saja nama-nama jalan yang hampir sama selalu memusingkan kita.

Ternyata ada beberapa faktor dalam otak kita yang membuat ‘kesasar’ bukan hal yang tidak normal.

Kemampuan otak dalam hal navigasi berada pada satu sisi yang sama dengan bagian otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan memori. Hippocampus dan entorhinal contex adalah komponen yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Namun berbeda dengan ketika kita mengingat memori, dalam mengingat arah jalan, sel yang menyimpan memori arah akan bisa lebih teraktivasi ketika kita berada di jalan tersebut. Sehingga setiap kita melewati sebuah jalan, dalam beberapa kali saja akan ada ‘peta’ dalam otak kita.

Otak kita, tepatnya bagian hippocampus, akan memuat sel yang dapat memberi impuls secara langsung ketika kita memasuki daerah yang familiar. Dengan sistematika ini, para ilmuwan menyamakan kinerja otak kita dengan sistem GPS.

Nah, terjadinya tersesat ini ternyata disebabkan oleh sinyal lemah di entorhinal cortex dalam otak seseorang, di mana hal ini akan menyebabkan seseorang tersebut mempunyai kesulitan yang lebih dalam hal navigasi di lingkungan baru.

Hal tersebut bukan hal yang tidak normal, karena setiap orang terlahir dengan kemampuan berbeda terhadap hal tersebut. Ini makin terbukti dengan bagaimana pasien Alzheimer mempunyai gejala awal mudah tersesat, dikarenakan entorhinal cortex dan hippocampus adalah bagian dari otak yang fungsinya lebih dulu merosot ketika terserang penyakit tersebut.

 

2. Mengapa seseorang bisa lebih rupawan di foto ketimbang aslinya

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Fenomena ini sangat luas kita temui di sosial media, di mana seringkali hal ini membuat kita ‘curiga’ jika kita melihat seseorang yang tak kita kenal, memiliki foto yang rupawan. Mengapa hal ini terjadi?

Hal ini terdiri dari beberapa faktor, dan yang paling mendasari adalah bagaimana struktur wajah kita berbentuk. Jika Anda mengamati secara detil ketika bercermin, Anda akan mendapati wajah Anda tak simetris, dan ini ternyata cukup normal. Wajah yang ternyata miring, dagu yang bengkok, gigi yang tak sejajar garis wajah, dan banyak yang lainnya.

Hal ini tiba-tiba menjadi penting ketika kita mengenal budaya foto dan selfie. Hal ini bisa dijelaskan oleh sebuah efek bernama ‘mere-exposure’ yang dipaparkan psikolog bernama Robert Zajonc para 1968 silam. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan bereaksi baik kepada seseorang yang dilihat lebih sering. Karena kita sering bercermin, kita tahu sudut mana dari wajah kita yang terlihat menarik, dan kita menyukai wajah kita dengan sudut tersebut. hal ini berimbas kepada kebiasaan foto dan selfie, yang mungkin tak disadari oleh seseorang.

Namun hal ini berkebalikan dari apa yang orang lain lihat. Seringkali, ‘sudut’ yang dilihat oleh orang lain ke wajah kita, tidak sesuai dengan sudut yang ditampilkan di foto. Sehingga, tak heran kita tak pernah terlihat semenawan di foto.

 

3. Mengapa sebelum hujan kita merasa gerah?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Tentu kita sering mengeluh, mengapa di musim hujan selalu suhu jadi panas. Atau suhu yang panas ini jadi indikator mudah untuk memprediksi datangnya hujan. Namun mengapa hal ini terjadi?

Bila kita telusuri prosesnya, mendung atau awan itu sejatinya adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari dari laut, sungai, danau, dan tempat berkumpulnya air lain. Mirip seperti kepulan asap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.

Singkatnya, udara panas membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Nah, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, akhirnya bertemulah dia dengan udara dingin.

Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya. Dan panas itu yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu lah hujan akan turun. Hujan sendiri pada dasarnya adalah uap air yang mengembun.

Selain pelepasan panas dari mendung, gerah sebelum hujan juga disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Sebelum hujan uap air akan memenuhi udara di sekitar kita, namun tubuh kita yang sudah merasa panas karena mendung dan berkeringat, tak bisa menguapkan keringat. Akibatnya kita akan merasa panas terus-menerus.

 

4. Mengapa habis sikat gigi makanan terasa pahit?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Melakukan sarapan tepat setelah sikat gigi, biasanya adalah ide yang buruk. Karena seringkali rasa makanan jadi tidak enak sehabis kita menggosok gigi. Namun mengapa hal tersebut terjadi?

Dilansir dari Wired, penyebab hal ini terjadi adalah sebuah senyawa di dalam pasta gigi yang bernama ‘sodium lauryl sulfate.’ Senyawa ini adalah deterjen yang ditambahkan ke banyak sekali merek pasta gigi, untuk menambah jumlah busa ketika kita menggosok gigi. Jumlah busa ini sebenarnya tak terlalu berpengaruh, namun secara psikologis membuat kita merasa mulut kita bersih.

Namun, deterjen ini sedikit merusak ‘rasa’ yang seharusnya kita nikmati di makanan. Hal ini dikarenakan deterjen cenderung mengurangi kemampuan lidah kita untuk merasakan manis. Hal ini akan diperburuk jika mulut kita bertemu dengan sesuatu yang asam, di mana hal ini akan membuat rasa pahit akan muncul seketika. Oleh karena itu jika kita sarapan dengan yang manis, rasa manis akan sedikit berkurang, dan jika kita minum jus jeruk, rasa pahit akan muncul.

Penjelasan lebih detil bisa kita peroleh jika diamati secara molekuler. Karena dalam skala kecil, deterjen mengubah respon dari reseptor perasa yang ada di lidah kita, dengan cara mengacaukan membran lemak yang sebenarnya bertugas untuk menyatukan tiap sel.

Hal ini cukup mirip dengan apa yang dilakukan sabun cuci piring, untuk menghilangkan lemak membandel yang menempel di alat makan kita.

 

5. Mengapa aksen seseorang susah hilang?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Seringkali kita bertemu dengan seseorang dengan aksen daerah yang sangat tebal. Meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau, aksen dari daerah asal tetap sulit untuk dihilangkan.

Menghilangkan aksen memang hal yang sulit, bahkan hampir mustahil. Meski otak kita sangat mudah dalam mengenali dan belajar aksen tertentu, hal tersebut sangat sulit ditransfer ke pembicaraan kita. Mengapa? Menurut para ilmuwan, hal tersebut sudah muncul sejak kita masih bayi, dan belum mampu bicara sepatah kata pun.

Dilansir dari Wired, para ilmuwan dari University of Washington mencoba melibatkan bayi-bayi dari berbagai suku. Mereka diperdengarkan suara-suara yang kental dengan nuansa Jepang dan Inggris. Pada bayi berusia 6 bulan, mereka merespon suara-suara tersebut dengan setara. Namun menginjak 10 bulan, bayi mulai tidak mengenal suara yang tidak ada di bahasa ibunya. Seperti bayi Jepang yang tidak menghiraukan huruf “r” dan “l” yang tidak umum di bahasa Jepang, namun umum di bahasa Inggris. Kesulitan untuk mengenali bahasa yang bukan bahasa Ibu memang cepat, namun untuk mempraktikkannya, dari lahir pun sulit.

Studi lain dari grup yang berbeda, menyatakan hal yang sebaliknya. Di mana kemampuan untuk belajar bahasa tak akan tiba-tiba menghilang, justru kemampuan ini akan menajam ketika memasuki masa puber. Setelah meneliti berbagai subjek, sang ilmuwan mendapati bahwa kemampuan seseorang dalam mempelajari bahasa kedua, berhubungan secara langsung dengan usia ketika mempelajarinya.

Kita memulai belajar bahasa dengan melihat sekitar, dan meniru orang tua, dan otak kita seakan-akan membentuk ‘perpustakaan’ yang membuat kita tetap fasih berbahasa. Namun ketika kita mendengar bahasa atau dialek yang baru, otak kita menempuh proses yang sama dalam belajar, namun tetap merujuk pada ‘perpustakaan’ bahasa asli yang kita pelajari.

Oleh karena itu, otak kita tidak menggunakan dialek atau bahasa yang baru, hanya mengambil perkiraan kasar suara yang sudah kita mengerti di otak kita. Itulah mengapa meski seorang bule sangat fasih berbahasa Indonesia, dia tetap menggunakan aksen kebule-bulean mereka.

Hal ini adalah kinerja alamiah otak kita. Jika tidak dilatih untuk membentuk ‘perpustakaan’ baru di otak, seseorang bisa tinggal puluhan tahun di negara yang berbahasa asing, tanpa kehilangan aksen sedikit pun.

 

6. Mengapa sipitkan mata bisa perjelas penglihatan?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Bagi Anda yang memiliki mata minus, meninggalkan kacamata ketika beraktivitas adalah sebuah malapetaka. Namun sadar tidak sadar, mata kita seketika menyipit untuk memperoleh pandangan yang lebih jelas.

Namun mengapa seseorang menyipit untuk mendapat pandangan yang lebih jelas? Dilansir dari Wired, mata kita bekerja layaknya kamera, dan segala sesuatu yang kita lihat adalah cahaya. Kaburnya penglihatan kita dipengaruhi mekanisme mata yang tak mampu lagi menangkap dan memproses cahaya. Cahaya masuk melalui lensa yang bertugas memfokuskan cahaya ke retina, dan syaraf yang sangat peka cahaya mengubah cahaya tersebut menjadi impuls elektromagnetik yang ditangkap oleh otak kita sebagai sebuah bentuk, warna, maupun tekstur.

Seperti kamera pula, lensa mata kita berubah bentuk untuk berusaha memfokuskan cahaya ke retina. Namun, tentu fleksibilitas lensa mata ada batasnya. Meski mata Anda normal pun, terkadang sesuatu yang kita lihat bersinggungan dengan hal lain di sekitarnya. Hal ini membuat ‘cahaya’ yang harus ditangkap mata terlalu banyak, dan ini adalah gangguan. Di sinilah ‘menyipit’ melakukan tugasnya.

Ketika mata kita menyipit, itu layaknya fotografer memperkecil bukaan atau ‘aperture’ di kamera. Makin kecil bukaan, makin fokus suatu benda yang dipotret. Menyipit juga demikian, hal tersebut seakan-akan mengurangi ‘cahaya’ lain yang masuk ke mata dan benda yang ingin kita fokuskan, jadi terlihat lebih jelas.

Hal ini tak terlalu berpengaruh kepada lensa mata, karena menyipit tidak membantu memfokuskan cahaya yang ditangkap oleh retina. Namun cukup membantu untuk lebih memfokuskan benda yang ingin kita lihat, dengan menghilangkan cahaya yang juga secara otomatis masuk ke mata.

 

7. Mengapa kita sering tertawa di atas penderitaan orang lain?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Sudah menjadi hal yang lumrah jika kita tertawa bila kita bahagia, dan menangis ketika sedih. Namun hal tersebut tak selalu mutlak, layaknya warna hitam dan putih. Beberapa acara televisi di Indonesia mengumbar berbagai humor ‘slapstick’ yang mungkin menyakiti mereka, namun kita justru tertawa melihatnya.

Dari sini muncul pertanyaan besar. Meski selera humor setiap individu berbeda-beda, mengapa secara umum kita tertawa di atas penderitaan orang lain?

Hal ini akan dijawab dari beberapa sudut pandang. Dilansir dari Medical Daily, menurut Dr. William Fry, seorang psikolog dari Standford University, kita akan tertawa jika ada sebuah peristiwa nyata yang ada dalam konteks tidak serius, atau hal tersebut dapat menyebabkan reaksi psikologis yang tidak lumrah. Sederhananya, jika kita melihat seseorang yang jatuh dari gedung berlantai 20, hal tersebut sangat menyedihkan. Namun jika melihat seseorang jatuh tersandung di jalan, hal tersebut justru lucu. Semua tergantung bagaimana otak kita membingkai kejadian dalam konteks. Tentu tersandung di jalan adalah hal yang memalukan.

Dari sudut pandang lain, kita tertawa melihat seseorang jatuh, karena hal tersebut merupakan suatu hal yang ganjil. Hal ini membuat kita tertawa pada hal yang ambigu, tidak mungkin secara logika, atau sekedar tidak sesuai dengan keadaan. Sebagai contoh, banyak sekali komedian yang membuat materi komedi dari kekurangan dirinya, seperti hidung yang besar, atau badan yang pendek.

Namun pernyataan berbeda datang dari sisi filosofis. Seorang filsuf bernama Henri Bergson, mempunyai teori bahwa masyarakat secara tak sadar melatih seseorang untuk tertawa pada hal yang ceroboh ataupun aneh, karena ini adalah sebuah aturan tak tertulis dari masyarakat. Sehingga, tawa justru adalah pengingat bagi kita untuk berbuat tidak ceroboh, agar tidak memalukan dan ditertawakan oleh masyarakat. Atau dengan kata lain, jika tidak ingin ditertawakan, jadilah ‘normal.’

Teori dari Bergson juga sedikit bersinggungan dengan teori dari Thomas Hobbes yang juga seorang filsuf. Hobbes menyatakan bahwa tawa muncul dari perasaan superioritas. Dengan kata lain, Hobbes berpendapat bahwa pecahnya tawa seseorang itu diakibatkan dirinya merasa ‘lebih baik secara tiba-tiba’ daripada orang yang dia tertawakan.

Dari sisi kedokteran, hal ini pun bisa dijelaskan. Reaksi tawa kita terhadap seseorang yang menderita, bisa jadi adalah akibat salah satu syaraf yang ada di otak. Jika kita melihat seseorang jatuh tersandung, salah satu syaraf akan membuat efek ‘cermin’ yang membuat kita membayangkan hal tersebut terjadi di otak kita dan memancing kita untuk tertawa.

Berbeda lagi jika hal ini ditelaah dari sisi psikologis, di mana semakin jauh sebuah peristiwa secara psikologis dengan hal yang bersifat ‘jahat,’ makin seseorang kencang untuk tertawa. Dalam studi di tahun 2010, Psikolog dari University of Colorado menjelaskan bahwa melihat seseorang menderita, akan menjadi lucu jika kita tak merasakan empati. Jika kita melihat film komedi, di mana sang aktor tertimpa sial, kita akan tetap tertawa melihatnya. Akan sangat berbeda jika kita melihat sendiri kesialan yang menimpa orang terdekat kita.

Sederhananya, makin dekat kita dengan seseorang makin besar peluang ancaman dan perasaan tidak aman yang kita rasakan, sehingga tawa tak akan semudah itu muncul dari mulut kita. Tawa dari dalam hati, mungkin, namun tidak di mulut.

 

8. Mengapa kita sering typo?

 

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya tapi sains tahu.

 

Typo adalah ‘penyakit’ yang mendarah daging. Setiap kita ‘chatting,’ mengirim sesuatu di sosial media, atau bahkan mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan di komputer, jarang sekali kita lepas dari ejaan yang salah ini.

Penjelasan mengapa hal tersebut bisa terjadi, tentu bukan karena kita yang ceroboh maupun tidak teliti, namun kita justru sangat fokus terhadap apa yang kita lakukan. Hal ini mampu diterangkan oleh Tom Stafford, seorang psikolog yang mempelajari tentang ‘typo’ di University of Sheffield di Inggris.

“Ketika Anda menulis, Anda mencoba untuk menyampaikan sebuah makna. Hal tersebut tentu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” ungkapnya.

Dengan pekerjaan ‘tingkat tinggi’ tersebut, otak kita secara otomatis memecah pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, sehingga kita bisa fokus ke apa yang paling penting. Hal ini bisa diibaratkan layaknya menulis.

Menulis adalah hal yang sangat kompleks, mengingat kita harus merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi sebuah ide yang mengandung makna. Namun dari hal itu saja, kita akan lebih fokus kepada bagaimana menyampaikan ‘pesan’ dari tulisan tersebut, agar sampai kepada pembacanya. Kita akan cenderung menghiraukan bagaimana sebuah huruf terangkai menjadi kata.

“Kita tidak akan menangkap detil yang terlalu kecil, kita bukan komputer,” ungkap Stafford. “Sebaliknya, kita menerima informasi sensorik dan menggabungkannya dengan apa yang kita inginkan, yakni menyampaikan makna pada tulisan tersebut,” imbuhnya.

Karena ‘makna’ lah yang paling penting bagi kita dalam menyusun sebuah tulisan, maka akan sangat mudah bagi kita untuk luput melihat detil yang kecil seperti typo.

Hal ini juga menjelaskan mengapa para pembaca selalu cepat dalam menemukan kesalahan kita dalam mengeja. Karena konsep menulis dan membaca juga sangat familiar di setiap orang, sehingga mereka lebih memperhatikan ketika mereka membaca tulisan seseorang untuk pertama kali.

 

Sumber: merdeka.com

INFOHARI.com © 2014