3 Alasan Bintang Porno Jepang “Sora Aoi” Pantas Dianggap Guru Seks terbaik

Ketika mengumumkan rencana pernikahannya di internet di awal Januari lalu, mantan bintang porno Jepang, Sora Aoi memicu keriuhan di kalangan netizen di China.

Dilansir dari laman BBC, situs mikroblog setempat, Weibo, dipenuhi oleh cuitan yang membahas tentang kabar tersebut. Ucapan selamat membanjiri akun Weibo milik Sora Aoi, mendoakan agar rencana pernikahannya dengan seorang DJ kenamaan asal China itu berjalan lancar.

Menariknya, di sela-sela banjir komentar tersebut, muncul banyak ucapan terima kasih kepada Sora Aoi yang dianggap berjasa memberikan ‘pendidikan seks’ kepada masyarakat China, terutama bagi kalangan usia produktif saat ini.

“Kami tumbuh bersama film-film yang kau bintangi, dan kami akan selalu mendukungmu,” tulis seorang netizen.

“Kau akan selalu menjadi dewi di mata saya …. Semoga kau bahagia,” tulis netizen lainnya.

Menurut Profesor Wai-ming Ng dari Departemen Studi Budaya Jepang Universitas Hong Kong, Sora Aoi muncul pada waktu yang tepat di China. Sora mulai dikenal luas ketika perbincangan tentang seks, termasuk edukasinya, dianggap sangat tabu oleh pemerintah China.

“Seluruh filmnya ditonton secara sembunyi-sembunyi, dan mengajarkan anak-anak [di China] yang mulai paham teknologi di awal 2000-an tentang apa itu seks,” jelas Profesor Wai-ming.

Publik dunia pun bertanya, ‘jasa-jasa’ apa saja telah diberikan oleh Sora Aori sehingga dirinya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap warga China.

Jawabannya ada beragam. Berikut adalah rangkuman tiga alasan utamanya :

1. Mengganti Peran Guru dalam Pendidikan Seks

Sora Aoi tidak pernah benar-benar menjadi guru seks, kecuali berperan sebagai sosok guru yang menggoda di beberapa filmnya.

Ia disebut ‘guru seks’ karena merupakan bintang porno yang pertama kali dikenal oleh masyarakat China pasca-berkembang pesatnya jaringan internet di sejak akhir dekade 1990-an.

Sebelumnya, masyarakat China sangat tabu membicarakan tentang seks, bahkan dalam lingkungan pertemanan sekalipun.

Seks baru akan benar-benar diketahui secara jelas ketika masyarakat China memasuki usia dewasa, dan itupun harus hati-hati dilakukan karena pemerintah saat itu mengontrol seluruh aktifitas warganya, termasuk ke ranah reproduksi yang tertuang dalam kebijakan satu keluarga satu anak.

Dengan hadirnya internet dan kian meluasnya penggunaan ponsel, masyarakat China pun secara diam-diam mulai lihai mengakses dan mengunduh video porno yang dibintangi oleh Sora Aoi dengan cara ilegal.

Mereka juga saling berbagi video porno tersebut dan diam-diam membahasnya dalam obrolan sehari-hari.

2. Meluruskan Pemahaman Soal Reproduksi

Sekalipun menganut paham komunis, namun masyarakat China masih percaya akan adanya Yang Maha Kuasa, yakni yang digambarkan dalam sekian banyak dewa, termasuk dewa kesuburan yang berkaitan dengan urusan seks.

Dahulu, anak-anak di China didoktrin untuk percaya bahwa anak adalah hadiah dari Tuhan, dan hanya diberikan kepada mereka yang bersikap baik. Tidak pernah ada pembicaraan yang membahas bahwa anak adalah hasil dari kegiatan reproduksi.

Melalui kehadiran Sora Aoi dan terbukanya akses ‘gelap’ tentang ragam informasi seputar seks, generasi millenial China pun perlahan memahami bagaimana seks bekerja.

Mereka juga mulai abai dengan mitos-mitos tentang kehadiran anak yang kerap diceritakan oleh orangtua, dan mulai berpikir rasional.

3. Mengkampanyekan seks sebagai Kebutuhan Hidup

Melalui video-video porno yang dibintang oleh Sora Aoi, generasi milenial China mulai teracuni oleh anggapan bahwa seks sebagai bagian dari kebutuhan hidup, bukan kewajiban untuk melahirkan keturunan.

Sudah menjadi rahasia umum di kota-kota metropolitan China, banyak dari generasi mudanya memberanikan diri melakukan hubungan intim di luar nikah. Banyak juga dari fenomena tersebut yang berujung pada komitmen hidup bersama, namun tidak menghendaki adanya keturunan.

Inilah yang belakangan menjadi isu penting bagi pemerintah China, yakni kian bertambahnya jumlah pasangan menikah yang menunda kehamilan, dan bahkan enggan untuk memiliki anak.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kondisi demografi China semakin membentuk piramida terbalik, yakni kelompok usia tua berisiko lebih besar jumlahnya dibandingkan usia produktif.

Bahkan di sepanjang 2017 lalu, pemerintah China mencatat kemerosotan angka kelahiran hingga 3,7 persen, yang menjadikannya terparah di sepanjang sejarah pemerintahan Republik Rakyat China.

Ironisnya, fakta tersebut terjadi ketika pemerintah China telah melonggarkan kebijakan satu keluarga satu anak sejak 2015 lalu.

INFOHARI.com © 2014